Wamendikdasmen Fajar Riza Ul Haq Tegaskan Deep Learning Kunci Transformasi Pendidikan Digital

Terbit: Januari 12, 2026

Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) RI, Dr. Fajar Riza Ul Haq, menegaskan bahwa penerapan deep learning merupakan kunci utama transformasi pendidikan digital untuk menyiapkan generasi unggul menuju Indonesia Emas 2045.

“Pemerintah hari ini serius menghadirkan kesetaraan akses untuk semua sekolah. Deep learning adalah fondasi penting untuk menyiapkan SDM unggul menuju Indonesia Emas 2045,” ujar Fajar saat menyampaikan Kuliah Umum di Fakultas Pendidikan, Komunikasi dan Sains (FPKS) Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura), Senin (12/1/2026).

Fajar menjelaskan komitmen pemerintah memperluas pemerataan akses pendidikan, termasuk di wilayah 3T. Ia mencontohkan pemanfaatan Interactive Flat Panel (IFP) yang ia temui saat berkunjung ke Flores dan Papua Barat. Menurutnya, teknologi tersebut mampu menciptakan suasana belajar yang lebih hidup dan partisipatif.

“Saya melihat sendiri bagaimana teknologi seperti IFP membuat pembelajaran lebih menyenangkan. Ini bukti bahwa digitalisasi mampu membantu percepatan kualitas pendidikan,” katanya.

Ia memaparkan tiga agenda strategis pemerintah, yaitu perbaikan infrastruktur fisik, peningkatan kualitas guru, dan penguatan kepemimpinan kepala sekolah. Pada 2025, pemerintah mulai memperbaiki 16 ribu sekolah rusak, dan pada 2026 menargetkan 60 ribu sekolah.

“Tahun ini pemerintah melipatgandakan bantuan Interactive Flat Panel (IFP) sebagai bagian dari transformasi pembelajaran digital,” ungkapnya.

Di sisi kualitas guru, Fajar menyoroti hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) siswa SMA/SMK yang masih rendah dalam literasi dan sains. Ia menegaskan bahwa kualitas guru menjadi salah satu akar persoalan.

“Masih banyak guru yang belum S1 atau D4, belum tersertifikasi, dan proses seleksi guru belum ketat. Karena itu, pemerintah akan memperketat pengangkatan guru dan mempercepat peningkatan kualifikasi melalui skema RPL,” jelasnya.

Terkait metode belajar, Fajar menyebut pembelajaran selama ini masih menekankan hafalan. Padahal, pendekatan deep learning menuntut siswa berpikir kritis, memahami konsep, dan berani bertanya.

“Deep learning berorientasi pada pemahaman, bukan pada banyaknya materi. Pusat pembelajaran adalah siswa, guru hanya fasilitator dan arsitek pembelajaran,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan bahwa teknologi tidak boleh menggantikan peran guru.

“Guru harus menguasai teknologi, baik secara metodologis maupun etis. Teknologi hanyalah alat bantu, bukan pengganti guru,” tambahnya.

Fajar menutup paparan dengan menekankan pentingnya kepemimpinan kepala sekolah yang kuat untuk menciptakan sekolah adaptif dan berkualitas.

“Sekolah yang baik selalu memiliki kepala sekolah yang mampu membangun budaya belajar dan ekosistem pendidikan yang sehat,” tutupnya.

Kuliah umum di Umsura ini menjadi momentum memperteguh kerja sama pemerintah dan perguruan tinggi dalam mempercepat transformasi pendidikan digital yang merata, berkeadilan, dan berkelanjutan. (Ahaf)