Fluktuasi harga emas kembali menjadi perhatian. Setelah sempat menembus Rp 3 juta per gram, harga emas kini mengalami penurunan signifikan.
Pengamat ekonomi Universitas Airlangga (Unair), Gigih Prihantono, menilai penurunan harga emas tersebut wajar jika dilihat dari sisi teknikal. Menurutnya, harga emas sebelumnya sudah berada di level yang terlalu mahal.
“Kalau dari sisi ekonomi, ketika ekspektasi masyarakat terhadap perekonomian riil membaik, seharusnya harga emas ikut turun,” ujar Gigih, dikutip dari DetikJatim, Selasa (3/2/2026).
Gigih menyebut turunnya harga emas justru bisa menjadi sinyal positif bagi kondisi ekonomi nasional pada 2026. Ia menilai kenaikan harga emas biasanya mencerminkan ketidakpastian ekonomi.
“Saya lebih prefer harga emas turun karena itu menandakan orang menganggap perekonomian ke depan lebih positif. Kalau emas naik, biasanya gambaran ekonominya kurang baik,” tegasnya.
Meski demikian, Gigih mengingatkan bahwa risiko global masih membayangi, terutama ketegangan geopolitik internasional yang dipicu Amerika Serikat dan berpotensi memengaruhi stabilitas ekonomi dunia.
Dari dalam negeri, ia menekankan pentingnya sinkronisasi dan konsistensi kebijakan pemerintah, termasuk penegakan hukum, dalam menjaga iklim ekonomi tetap kondusif.
“Faktor dalam negeri seperti konsistensi kebijakan pemerintah dan penegakan hukum juga sangat berpengaruh,” katanya.
Gigih mengimbau masyarakat agar tidak panik menyikapi fluktuasi harga emas. Ia menegaskan bahwa emas sebaiknya digunakan sebagai instrumen investasi jangka panjang dengan dana yang tidak mengganggu kebutuhan sehari-hari.
“Investasi emas itu harus pakai uang tenang, bukan uang yang sewaktu-waktu dibutuhkan. Prinsipnya uang sisa, bukan uang konsumsi,” ujarnya.
Bagi masyarakat yang sudah terlanjur berinvestasi, Gigih menyarankan untuk menjual emas jika sudah memperoleh keuntungan. Namun jika belum, emas sebaiknya tetap disimpan.
“Kalau sudah untung, ya dijual saja. Kalau belum, tetap disimpan,” ucapnya.
Terkait pembelian emas di tengah kondisi harga yang fluktuatif, Gigih menilai keputusan tersebut bersifat relatif. Namun secara pribadi, ia menyarankan agar masyarakat mempertimbangkan instrumen investasi lain.
“Kalau saya, lebih baik dialokasikan ke instrumen lain, misalnya surat utang negara,” pungkasnya.
Sebagai informasi, mengutip detikFinance, harga emas Antam 24 karat hari ini kembali turun dari level Rp 3 juta per gram. Harga emas anjlok Rp 183.000 menjadi Rp 2.844.000 per gram.
Berdasarkan data situs Logam Mulia Antam, Selasa (3/2/2026), harga emas ukuran 0,5 gram tercatat Rp 1.472.000. Sementara emas 10 gram dibanderol Rp 27.935.000 dan ukuran terbesar 1.000 gram (1 kg) dijual Rp 2.784.600.000. (Ahaf)