Lonjakan Harga Logam Mulia Dongkrak Permintaan Produk Investasi di Tiongkok

Terbit: Januari 3, 2026

Harga logam mulia yang terus menanjak mendorong lonjakan permintaan produk investasi di Tiongkok. Media Global Times melaporkan, harga emas dan perak berulang kali mencetak rekor tertinggi, memicu pabrik-pabrik logam mulia bekerja lembur untuk memenuhi permintaan pasar yang meningkat tajam.

Para ahli menilai, konsumen saat ini telah melampaui kebutuhan perhiasan tradisional dan bergeser kuat ke produk investasi. Kenaikan paling mencolok terjadi pada perak, yang menarik minat investor dan membuat produk terkait menjadi langka di pasaran.

Di sebuah toko Hengtai, perusahaan perdagangan logam mulia di Guangzhou, Provinsi Guangdong, penjual menyebut sebagian besar konsumen membeli produk investasi berupa batangan perak seberat 1 kilogram. Fenomena serupa terjadi di Shenzhen, tempat pabrik produk perak mengalihkan fokus produksi dari perhiasan ke batangan perak berkualitas investasi akibat anjloknya permintaan perhiasan.

China Central Television (CMG) melaporkan, bisnis yang sebelumnya hanya menjadi lini tambahan kini berubah menjadi sumber pendapatan utama pabrik. Untuk memenuhi permintaan, pabrik menambah mesin pres hidrolik dan alat penggiling guna meningkatkan kapasitas produksi.

Sun Tao, manajer umum sebuah pabrik pengolahan perak, mengungkapkan bahwa pada kuartal IV tahun lalu produksi didominasi batangan perak 1 kilogram. Namun sejak awal tahun ini, permintaan bergeser ke batangan yang lebih kecil, seperti 100 gram dan 200 gram, seiring peningkatan teknik produksi dan diversifikasi produk.

Sejak April 2025, harga emas dan perak melonjak ke level tertinggi sepanjang masa di tengah volatilitas global. Tren ini turut mendorong pemasaran tembaga sebagai produk investasi, meski sebelumnya lebih dikenal sebagai bahan baku industri.

Di sejumlah pusat perdagangan perhiasan di Tiongkok, pedagang mulai menawarkan batangan tembaga 1 kilogram sebagai “produk investasi”. Namun, para pakar memperingatkan risiko tinggi dari tren tersebut.

CMG mencatat, berbeda dengan emas dan perak yang memiliki sistem pembelian kembali jelas, sebagian besar penjual batangan tembaga hanya melayani penjualan tanpa fasilitas buyback. Kondisi ini berpotensi menyulitkan investor saat ingin mencairkan aset.

CEO dan analis iiMedia Research, Zhang Yi, menegaskan emas dan perak masih dianggap sebagai “mata uang keras” global dengan fungsi penyimpan nilai. Sebaliknya, tembaga dan logam non-mulia lainnya lebih dipengaruhi siklus industri, sehingga karakteristik investasinya jauh lebih lemah.

Ia juga mengingatkan bahwa produk tembaga rentan oksidasi, memiliki biaya penyimpanan lebih tinggi, serta stabilitas nilai yang terbatas. Zhang Yi meminta masyarakat waspada terhadap pemasaran berlebihan dan narasi spekulatif, serta menekankan pentingnya regulasi untuk melindungi konsumen dari risiko investasi berbasis euforia pasar. (Ahaf)